pdmcilacap, Cilacap – Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Cilacap menggelar Pelatihan Kader Muda Taruna Melati II di SMK Muhammadiyah Cilacap pada Kamis–Ahad (14–17/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti 28 peserta dari unsur pimpinan daerah, cabang, hingga ranting.
Ketua Umum PD IPM Cilacap, Zukhrif Najmaddin Hakim Sulthon Fathoni, mengatakan setiap cabang dan ranting sekolah diminta mengirimkan delegasi untuk mengikuti pelatihan tersebut. “Tujuan Pelatihan Kader Muda Taruna Melati II ini untuk pemerataan pengaderan di Cilacap,” ujarnya.
Materi yang disampaikan dalam pelatihan meliputi Islam Wasathiyah Muhammadiyah, Risalah Islam Berkemajuan, 4C Skills, Gerakan Kepemimpinan Berdampak, dan Theory of Change (ToC).
Selain itu, peserta juga menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bekal pengaderan lanjutan. Para peserta nantinya akan dilibatkan dalam kegiatan Fortasi siswa baru dan kepanitiaan Musyawarah Daerah (Musda) yang direncanakan berlangsung pada September atau Oktober 2026.
Salah satu peserta dari SMK Muhammadiyah Majenang (MUMA), Muhamad Rifa Hasan, siswa kelas XI TITL 1 sekaligus Ketua Bidang Pengaderan Ranting IPM, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari materi yang disampaikan narasumber.
“Menarik mengikuti pelatihan kader muda ini karena bisa menambah pengalaman dan wawasan dari materi yang diberikan narasumber,” ungkapnya.
Ia menilai materi keterampilan atau kemampuan yang diberikan sangat berpengaruh dalam kehidupan, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi secara bijak dan positif.
“Materi ini membantu kami menghadapi perkembangan zaman, khususnya teknologi, dengan cara yang bijak dan bermanfaat,” katanya.
Narasumber yang juga Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Cilacap, Aan Saeful Islam, menyampaikan bahwa kader IPM harus menjadi pelajar berkemajuan yang mampu membawa perubahan.

“Kita memiliki mandat organisasi yang jelas. Tidak boleh menjadi penonton yang pasif. Kita adalah driver, bukan passenger. Kita adalah pencipta solusi, bukan penghafal masalah,” tegasnya.
Menurut Aan, Taruna Melati hadir sebagai ruang penggemblengan kader dengan empat pilar kompetensi utama abad ke-21 atau 4C Skills, yakni critical thinking, creativity, collaboration, dan communication.
“Critical thinking atau nalar kritis menjadi benteng ideologi organisasi agar tidak menelan informasi mentah-mentah. Creativity diperlukan agar dakwah pelajar tetap relevan, misalnya melalui media sosial yang estetik,” paparnya.
Ia menambahkan, collaboration menjadi kekuatan kolektif organisasi melalui sinergi seluruh pimpinan, sedangkan communication menuntut kader menjadi pendengar yang baik sekaligus pembicara yang persuasif.
Sementara itu, Lembaga Fasilitator Pendamping PWM Jawa Tengah, Mahda, menjelaskan pihaknya bertugas memandu sekaligus memfasilitasi pelatihan tersebut.
“Kami menyusun silabus atau kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan PD IPM Cilacap, kemudian diturunkan menjadi TOR sebagai dokumen perencanaan pelaksanaan kegiatan sebelum disampaikan kepada para pemateri,” jelasnya.
Ia berharap peserta dapat menjadi kader yang progresif dan militan serta mampu memberikan dampak nyata bagi IPM Cilacap maupun Muhammadiyah secara umum.
Mahda juga mengapresiasi antusiasme peserta selama pelatihan berlangsung.
“Alhamdulillah, selama empat hari tiga malam pelatihan, peserta sangat antusias dan berkomitmen menjalankan kontrak belajar yang telah disepakati,” pungkasnya. (wasis/san)




