pdmcilacap, Cilacap – Sepekan yang lalu, Pemuda Muhammadiyah kehilangan seorang kader terbaik. Kepergiannya menyisakan ruang kosong yang tidak mudah diisi. Bukan hanya karena satu nama telah hilang, tetapi karena satu keteladanan telah dipanggil pulang. Ada orang yang ketika wafat hanya meninggalkan kabar duka, tetapi ada pula orang yang ketika wafat meninggalkan warisan nilai. Imam Fauzi termasuk yang kedua.

Tugasnya sebagai khalifah di bumi telah tuntas. Tanah telah menutup jasadnya, tetapi tanah tidak mampu menutup jejak perjuangannya. Waktu boleh memisahkan raganya dari kita, namun kenangan tentang kesederhanaan, keberanian, dan ketulusannya masih hidup di tengah para kader. Ia bukan tipe manusia yang sibuk memoles citra. Ia hadir apa adanya. Ia tidak hanya pandai menjual kata-kata, tetapi tekun membuktikan makna. Ia tidak mengejar tepuk tangan, tetapi selalu datang ketika umat membutuhkan tangan.

Di momen Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah, kepergiannya seperti pesan sunyi yang datang dari liang kubur: jangan pernah membangun organisasi hanya dengan slogan, tetapi bangunlah dengan pengorbanan. Sebab organisasi besar tidak dibesarkan oleh baliho dan seremoni, melainkan oleh orang-orang yang rela lelah, rela waktu habis, rela tenaganya terkuras demi cita-cita bersama.

Pemuda Muhammadiyah selama hampir satu abad berdiri bukan sekadar organisasi kepemudaan biasa. Ia lahir sebagai kawah candradimuka kader, tempat anak-anak muda ditempa menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan berani memikul tanggung jawab kebangsaan. Karena itu, kader Muhammadiyah tidak cukup hanya saleh secara pribadi, tetapi juga harus berguna secara sosial.

Di sinilah Muhammadiyah sejak awal memiliki pandangan luas tentang perjuangan. Dakwah tidak berhenti di masjid, tidak selesai di ruang kelas, tidak cukup di rumah sakit, panti asuhan, dan amal usaha. Dakwah juga harus hadir di ruang kebijakan, ruang legislasi, ruang pengawasan, dan ruang pengambilan keputusan. Karena itu Muhammadiyah memberi kesempatan kepada kader-kadernya untuk masuk ke berbagai jalur pengabdian, termasuk politik praktis, lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif (Nashir, 2013).

Namun perlu diingat, politik dalam pandangan Muhammadiyah bukan sekadar perebutan kursi. Politik bukan panggung ambisi pribadi. Politik bukan seni menipu rakyat dengan janji lima tahunan. Politik harus menjadi alat menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan martabat manusia. Haedar Nashir menyebut pentingnya politik nilai, yakni aktivitas politik yang dibingkai amanah, tanggung jawab, kejujuran, dan orientasi kemaslahatan (Nashir, 2020).

Imam Fauzi, kader Muhammadiyah lahir batin kelahiran Majenang memahami betul bab itu. Ia tahu jabatan hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia mengerti bahwa kekuasaan yang tidak dikendalikan nilai akan berubah menjadi kerakusan. Maka ia memilih jalan sederhana: bekerja tanpa gaduh, berjuang tanpa banyak menuntut, dan menjaga nama baik persyarikatan dengan cara yang elegan.

Hari ini, saat Pemuda Muhammadiyah berusia 94 tahun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Anak muda hidup di tengah banjir informasi. Media sosial sering kali lebih ramai daripada ruang kajian. Fitnah lebih cepat menyebar daripada klarifikasi. Popularitas lebih dipuja daripada kapasitas. Kegaduhan lebih laku daripada gagasan. Dalam situasi seperti ini, pesan Imam Fauzi terasa sangat relevan: jadilah kader yang mengakar, bergerak, dan membumi.

Mengakar berarti tidak tercerabut dari rakyat. Kader harus dekat dengan denyut kehidupan masyarakat. Ia tahu harga beras naik, tahu petani kesulitan pupuk, tahu guru honorer menunggu kepastian, tahu anak muda sulit kerja, tahu warga kecil butuh pendampingan. Kader yang mengakar tidak hidup di menara gading organisasi.

Bergerak berarti tidak puas dengan rapat dan wacana. Terlalu banyak orang pandai berbicara, tetapi sedikit yang mau bekerja. Terlalu banyak orang ahli mengkritik, tetapi malas turun tangan. Kader sejati hadir di lapangan: membantu korban bencana, mengajar masyarakat, mendampingi UMKM, menguatkan literasi, dan menjaga moral publik.

Membumi berarti sederhana, tidak elitis, dan mudah dijangkau. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin rendah hatinya seharusnya. Kepribadian Muhammadiyah yang dirumuskan tahun 1962 menegaskan watak gerakan ini sebagai gerakan yang menjunjung ukhuwah, keadilan, kerjasama untuk kebaikan, dan tetap kritis terhadap penyimpangan.

Muhammadiyah juga memiliki khittah perjuangan yang menegaskan posisi organisasi sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang menjaga jarak dari kepentingan partai secara kelembagaan, tetapi tetap aktif mendorong kader berkontribusi bagi bangsa sebagai warga negara. Sikap ini menunjukkan kedewasaan: organisasi tidak hanya menjadi alat politik praktis, namun kader didorong menjadi pelaku perubahan.

Karena itu, jika ada kader Muhammadiyah masuk ke parlemen, birokrasi, kampus, dunia usaha, atau ruang publik lain, yang dibawa bukan sekadar identitas, tetapi akhlak. Yang dipamerkan bukan logo, tetapi integritas. Yang diperjuangkan bukan kelompoknya saja, tetapi kepentingan bangsa.

Imam yang di ujung usianya masih mengabdi sebagai anggota legislatif DPRD Cilacap seolah kembali berbicara kepada kita semua. Dari keheningan liang lahat, seolah ada suara lirih yang berkata: jangan jual murah idealisme. Jangan gadaikan organisasi demi jabatan. Jangan jadikan persyarikatan sekadar batu loncatan. Kalau kalian dipercaya memimpin, melayanilah. Kalau kalian diberi jalan masuk kekuasaan, jagalah amanah. Kalau kalian menjadi kader, jadilah kader yang benar-benar kader.

Usia 94 tahun adalah usia matang. Tetapi Pemuda Muhammadiyah tidak boleh menjadi tua dalam semangat. Ia harus tetap muda dalam keberanian, segar dalam gagasan, dan kuat dalam kerja nyata. Jangan hanya ramai saat milad, tetapi sepi saat rakyat menjerit. Jangan hanya gagah dalam seragam, tetapi rapuh dalam pengabdian. Jangan hanya sibuk berebut posisi, tetapi lupa fungsi.

Untuk Sang Imam, kami tahu engkau telah tenang di sana. Tetapi tenanglah lebih dalam, sebab benih yang kau tanam tidak mati. Ia tumbuh di dada kader-kader muda yang masih percaya bahwa organisasi adalah ladang amal, bukan tangga ambisi.

Penulis : Rakhman Kamali (Kader Pemuda Muhammadiyah Cilacap)