Berita
In Memoriam Imam Fauzi : Selamat Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah, Jadilah Kader yang Mengakar, Bergerak, & Membumi
pdmcilacap, Cilacap – Sepekan yang lalu, Pemuda Muhammadiyah kehilangan seorang kader terbaik. Kepergiannya menyisakan ruang kosong yang tidak mudah diisi. Bukan hanya karena satu nama telah hilang, tetapi karena satu keteladanan telah dipanggil pulang. Ada orang yang ketika wafat hanya meninggalkan kabar duka, tetapi ada pula orang yang ketika wafat meninggalkan warisan nilai. Imam Fauzi termasuk yang kedua.
Tugasnya sebagai khalifah di bumi telah tuntas. Tanah telah menutup jasadnya, tetapi tanah tidak mampu menutup jejak perjuangannya. Waktu boleh memisahkan raganya dari kita, namun kenangan tentang kesederhanaan, keberanian, dan ketulusannya masih hidup di tengah para kader. Ia bukan tipe manusia yang sibuk memoles citra. Ia hadir apa adanya. Ia tidak hanya pandai menjual kata-kata, tetapi tekun membuktikan makna. Ia tidak mengejar tepuk tangan, tetapi selalu datang ketika umat membutuhkan tangan.
Di momen Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah, kepergiannya seperti pesan sunyi yang datang dari liang kubur: jangan pernah membangun organisasi hanya dengan slogan, tetapi bangunlah dengan pengorbanan. Sebab organisasi besar tidak dibesarkan oleh baliho dan seremoni, melainkan oleh orang-orang yang rela lelah, rela waktu habis, rela tenaganya terkuras demi cita-cita bersama.
Pemuda Muhammadiyah selama hampir satu abad berdiri bukan sekadar organisasi kepemudaan biasa. Ia lahir sebagai kawah candradimuka kader, tempat anak-anak muda ditempa menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan berani memikul tanggung jawab kebangsaan. Karena itu, kader Muhammadiyah tidak cukup hanya saleh secara pribadi, tetapi juga harus berguna secara sosial.
Di sinilah Muhammadiyah sejak awal memiliki pandangan luas tentang perjuangan. Dakwah tidak berhenti di masjid, tidak selesai di ruang kelas, tidak cukup di rumah sakit, panti asuhan, dan amal usaha. Dakwah juga harus hadir di ruang kebijakan, ruang legislasi, ruang pengawasan, dan ruang pengambilan keputusan. Karena itu Muhammadiyah memberi kesempatan kepada kader-kadernya untuk masuk ke berbagai jalur pengabdian, termasuk politik praktis, lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif (Nashir, 2013).
Namun perlu diingat, politik dalam pandangan Muhammadiyah bukan sekadar perebutan kursi. Politik bukan panggung ambisi pribadi. Politik bukan seni menipu rakyat dengan janji lima tahunan. Politik harus menjadi alat menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan martabat manusia. Haedar Nashir menyebut pentingnya politik nilai, yakni aktivitas politik yang dibingkai amanah, tanggung jawab, kejujuran, dan orientasi kemaslahatan (Nashir, 2020).
Imam Fauzi, kader Muhammadiyah lahir batin kelahiran Majenang memahami betul bab itu. Ia tahu jabatan hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia mengerti bahwa kekuasaan yang tidak dikendalikan nilai akan berubah menjadi kerakusan. Maka ia memilih jalan sederhana: bekerja tanpa gaduh, berjuang tanpa banyak menuntut, dan menjaga nama baik persyarikatan dengan cara yang elegan.
Hari ini, saat Pemuda Muhammadiyah berusia 94 tahun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Anak muda hidup di tengah banjir informasi. Media sosial sering kali lebih ramai daripada ruang kajian. Fitnah lebih cepat menyebar daripada klarifikasi. Popularitas lebih dipuja daripada kapasitas. Kegaduhan lebih laku daripada gagasan. Dalam situasi seperti ini, pesan Imam Fauzi terasa sangat relevan: jadilah kader yang mengakar, bergerak, dan membumi.
Mengakar berarti tidak tercerabut dari rakyat. Kader harus dekat dengan denyut kehidupan masyarakat. Ia tahu harga beras naik, tahu petani kesulitan pupuk, tahu guru honorer menunggu kepastian, tahu anak muda sulit kerja, tahu warga kecil butuh pendampingan. Kader yang mengakar tidak hidup di menara gading organisasi.
Bergerak berarti tidak puas dengan rapat dan wacana. Terlalu banyak orang pandai berbicara, tetapi sedikit yang mau bekerja. Terlalu banyak orang ahli mengkritik, tetapi malas turun tangan. Kader sejati hadir di lapangan: membantu korban bencana, mengajar masyarakat, mendampingi UMKM, menguatkan literasi, dan menjaga moral publik.
Membumi berarti sederhana, tidak elitis, dan mudah dijangkau. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin rendah hatinya seharusnya. Kepribadian Muhammadiyah yang dirumuskan tahun 1962 menegaskan watak gerakan ini sebagai gerakan yang menjunjung ukhuwah, keadilan, kerjasama untuk kebaikan, dan tetap kritis terhadap penyimpangan.
Muhammadiyah juga memiliki khittah perjuangan yang menegaskan posisi organisasi sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang menjaga jarak dari kepentingan partai secara kelembagaan, tetapi tetap aktif mendorong kader berkontribusi bagi bangsa sebagai warga negara. Sikap ini menunjukkan kedewasaan: organisasi tidak hanya menjadi alat politik praktis, namun kader didorong menjadi pelaku perubahan.
Karena itu, jika ada kader Muhammadiyah masuk ke parlemen, birokrasi, kampus, dunia usaha, atau ruang publik lain, yang dibawa bukan sekadar identitas, tetapi akhlak. Yang dipamerkan bukan logo, tetapi integritas. Yang diperjuangkan bukan kelompoknya saja, tetapi kepentingan bangsa.
Imam yang di ujung usianya masih mengabdi sebagai anggota legislatif DPRD Cilacap seolah kembali berbicara kepada kita semua. Dari keheningan liang lahat, seolah ada suara lirih yang berkata: jangan jual murah idealisme. Jangan gadaikan organisasi demi jabatan. Jangan jadikan persyarikatan sekadar batu loncatan. Kalau kalian dipercaya memimpin, melayanilah. Kalau kalian diberi jalan masuk kekuasaan, jagalah amanah. Kalau kalian menjadi kader, jadilah kader yang benar-benar kader.
Usia 94 tahun adalah usia matang. Tetapi Pemuda Muhammadiyah tidak boleh menjadi tua dalam semangat. Ia harus tetap muda dalam keberanian, segar dalam gagasan, dan kuat dalam kerja nyata. Jangan hanya ramai saat milad, tetapi sepi saat rakyat menjerit. Jangan hanya gagah dalam seragam, tetapi rapuh dalam pengabdian. Jangan hanya sibuk berebut posisi, tetapi lupa fungsi.
Untuk Sang Imam, kami tahu engkau telah tenang di sana. Tetapi tenanglah lebih dalam, sebab benih yang kau tanam tidak mati. Ia tumbuh di dada kader-kader muda yang masih percaya bahwa organisasi adalah ladang amal, bukan tangga ambisi.
Penulis : Rakhman Kamali (Kader Pemuda Muhammadiyah Cilacap)
Kolaborasi PCM Kuatkan Komitmen Bermuhammadiyah di Cilacap
pdmcilacap, Cilacap – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cilacap Utara, PCM Sampang, dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kesugihan menggelar kegiatan bertajuk Pembinaan dan Penguatan Al Islam dan Kemuhammadiyahan bagi Karyawan Amal Usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (AUMA).
Kegiatan di Aula SMK Muhammadiyah Sampang, Cilacap, Kamis (14/5/2026), menghadirkan Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, H. Dodok Sartono, sebagai narasumber.
Sebanyak 420 peserta mengikuti kegiatan, terdiri atas 237 karyawan AUM PCM Cilacap Utara, 160 karyawan AUM PCM Sampang, dan 23 karyawan AUM PCA Kesugihan.
Dalam materinya bertajuk ‘Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan’, Dodok menegaskan pentingnya penguatan akar rumput (grassroots) di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai ujung tombak pembinaan kader, anggota, dan jamaah.
“Kita harus bersinergi antara PCM, PCA, dan PRM dengan keunggulan masing-masing. Mari kuatkan cabang, ranting, dan masjid,” ujarnya.
Ia menilai pembinaan dan penguatan Al Islam dan Kemuhammadiyahan perlu terus digalakan, terutama bagi guru dan karyawan AUM.
“Guru, karyawan, dan AUM merupakan kekuatan sekaligus kelebihan Muhammadiyah. Karena itu, SDM yang ada harus terus dididik dan diasah agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki komitmen bermuhammadiyah,” katanya.

Dodok juga mendorong Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) serta Majelis Tabligh untuk rutin mengadakan kajian di sekolah-sekolah.
Menurutnya, PCM Cilacap Utara dan PCM Sampang termasuk dua dari lima cabang unggulan Muhammadiyah di Kabupaten Cilacap karena memiliki amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan yang berkembang baik.
“AUM sekolah dan Klinik PKU-nya bagus, dengan jumlah siswa dan peserta BPJS yang banyak,” ungkapnya.
Ia berharap keunggulan tersebut terus diperkuat sehingga AUM menjadi pilihan utama masyarakat.
“Dengan begitu, Muhammadiyah akan semakin dikenal, sehingga masyarakat semakin simpatik dan tertarik kepada Muhammadiyah,” tuturnya.
Dodok menambahkan, dakwah Muhammadiyah harus dikemas secara menarik melalui penguatan amal usaha.
“Sajikan Muhammadiyah dengan kekuatan di AUM. Jadikan AUM unggulan dan pilihan masyarakat, serta isi kegiatan AUM dengan dakwah,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan di tiga bidang utama Muhammadiyah, yakni pendidikan, kesehatan, dan masjid.
“Perkuat tiga bidang ini dengan memetakan masjid cabang dan ranting, serta menguatkan sektor kesehatan dan pendidikan. Insya Allah Muhammadiyah akan terus eksis dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MPKSDI Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Cilacap, Wartono, mengapresiasi kolaborasi PCM Cilacap Utara, PCM Sampang, dan PCA Kesugihan dalam penguatan kaderisasi Persyarikatan Muhammadiyah.
Ia mengingatkan pesan KH Ahmad Dahlan agar warga Muhammadiyah menghidupkan persyarikatan, bukan mencari hidup di Muhammadiyah.
“Wasiat ini harus dijaga bersama agar rantai kepemimpinan terus berlangsung,” tegasnya.
Menurut Wartono, kolaborasi antarcabang dan PCA perlu dibangun dengan semangat saling mendukung.
“Saling menguatkan dengan prinsip saling gandeng dan saling gendong sehingga terwujud kader-kader yang memiliki daya tahan dan daya juang,” katanya.
Ia menambahkan, Muhammadiyah membutuhkan kader-kader yang siap berjuang dan berkorban.
“Di Muhammadiyah dibutuhkan orang-orang yang mau capek. Insya Allah, lelah kita akan dibalas surga oleh Allah SWT,” pungkasnya. (wasis/san)
JATAM dan Pemdes Hanum Perkuat Kemandirian Petani melalui Pelatihan Pertanian Organik
pdmcilacap, Cilacap – Pemerintah Desa Hanum, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap menggelar pelatihan pembuatan pupuk dan pestisida organik bagi masyarakat Dusun Rimpaknangsi, Ahad (10/5/2026). Program pemberdayaan masyarakat tersebut mendapat sambutan antusias dari warga.
Sekitar 50 peserta mengikuti pelatihan ini, terdiri atas 20 laki-laki dan 30 perempuan. Kegiatan turut dihadiri Kepala Dusun Rimpaknsi, perangkat desa, serta tokoh masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pertanian ramah lingkungan dan penguatan ketahanan pangan masyarakat.
Pelatihan menghadirkan narasumber dari Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Cabang Cilacap Bidang Inovasi dan Teknologi, yakni Koordinator JATAM Fajar Arifin dan anggota JATAM Budhi Rachmadi. Kegiatan juga didampingi perwakilan MPM PDM Cilacap, Maman Suprianto.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pendampingan praktis mengenai pembuatan pupuk dan pestisida organik berbahan dasar limbah rumah tangga untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya tanaman padi.

Materi yang disampaikan meliputi pembuatan pupuk organik fase vegetatif, pupuk organik fase generatif, serta pestisida nabati ramah lingkungan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak aktif berdiskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan terkait penerapan pertanian organik di lingkungan masing-masing. Antusiasme warga juga terlihat dari harapan agar program serupa dapat terus dilanjutkan melalui pendampingan berkelanjutan.
Ketua sekaligus penggerak kegiatan, Achmad Riyanto, yang juga Kepala Dusun Rimpaknangsi berharap pelatihan tersebut menjadi langkah nyata dalam membangun kemandirian petani.
“Pelatihan ini diharapkan dapat menekan biaya produksi pertanian sekaligus mendorong terciptanya sistem pertanian yang sehat, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, sebagai bentuk keseriusan dalam mengintensifkan program pemberdayaan masyarakat, Pemerintah Desa Hanum telah menjadwalkan pelatihan lanjutan dengan menghadirkan narasumber dan pendamping yang sama.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PDM Cilacap, Budhi Burhan Zain, mengatakan pelatihan lanjutan direncanakan berlangsung pada Rabu (15/5/2026) di Dusun Sukaharja, Desa Hanum.
“Kegiatan ini diharapkan mampu memperluas manfaat pelatihan sekaligus memperkuat gerakan pertanian organik berbasis masyarakat di wilayah Dayeuhluhur,” ujarnya.
Menurutnya, MPM PDM Cilacap melalui JATAM berkomitmen menghadirkan inovasi pertanian yang solutif, aplikatif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

“Melalui pendampingan, pelatihan, dan penguatan kapasitas petani, JATAM hadir sebagai gerakan pemberdayaan yang dibentuk MPM Muhammadiyah untuk memperkuat kemandirian petani, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mendorong terwujudnya sistem pertanian yang sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” paparnya.
Ia menambahkan, JATAM Cilacap kini berkembang menjadi salah satu komunitas pertanian terpadu yang diperhitungkan di tingkat lokal, regional, hingga nasional, khususnya dalam pengembangan pertanian organik, inovasi teknologi tepat guna, dan gerakan pemberdayaan petani berbasis dakwah Muhammadiyah.
“Komitmen ini menjadi bagian dari dakwah pemberdayaan Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat Islam yang berkemajuan, mandiri, dan berdaya saing di bidang pertanian serta penguatan ketahanan pangan masyarakat,” pungkasnya. (bbz/Wasis)



